WARA-WARA

Kepada semua pengunjung, mohon maaf, blog saya sekarang pindah di www.yoyok.co.nr

so, jika saudara-saudara masih ingin menyambung silaturahmi, silakan berinteraksi dengan saya melalui blog tersebut di atas.

terimakasih.

REMIDI UKK SEMESTER GENAP 2007/2008 KELAS XI

-Kerjakan kembali soal essay UKK kls XI smt Genap 2007/2008 dan tulislah soal yang sulit beserta alasannya!
-Buatlah power point materi yang telah diajarkan di kelas XI (smt 1 dan smt 2), untuk satu kelas dikumpulkan dalam 1 CD!
-Tugas remedial dikumpulkan paling lambat hari Selasa, 10 Juni 2008.

REMIDI UKK SEMESTER GENAP 2007/2008 KELAS X

-Kerjakan kembali soal UKK kelas X smt Genap 2007/2008, dan tulislah soal yang sulit beserta alasannya!
-Buatlah ikhtisar/ringkasan materi yang telah diajarkan di kelas X (smt 1 dan smt 2)!
-Tugas remedial dikumpulkan paling lambat hari Selasa, 10 Juni 2008.

REMIDI DAN SUSULAN KUIS HARIAN KELAS XI

-Buatlah lima kalimat futur simple!
-Buatlah lima kalimat negatif!
-Buatlah kalimat dengan menggunakan verbe: avoir, vouloir, dan pouvoir!
-Buatlah lima kalimat dengan menggunakan adjectif dalam kala future simple!
-Susunlah menjadi kalimat yang benar!
Cherchons – un – document – sur –Nous – le racisme.
Père – lit – journal – balcon – au – un – mon.
Différents – sommes – et – égales – Nous.
Mercredi – j’- le – cours – ai – ski – de.
Adorent – cantine – ils – la.

REMIDI KUIS HARIAN KELAS X

-Lengkapilah dengan article un, une, des, le, la, les!
ü Le président de France a … femme.
ü Tu as … petite amie.
ü Nous achetons … fleurs.
ü Carla Bruni est … femme de Sarkozy.
ü C’est … voiture de Roy.
ü Ce sont … amis de moi.
-Susunlah menjadi kalimat yang benar !
Ø Cherche-un-sur-racisme-je-document-le.
Ø Il-français-à-moi-parle.
Ø Mes-moi-et-regardons-parents-télé-la.
Ø Manger-beaucoup-il-aime.
Ø Je-mon-téléphone-amie.
-Buatlah lima kalimat negatif !
-Lengkapilah !
Je … Muhammad Avalokiteshvara el Fatih Prasetya. Je … lycéen à l’SMA N 2 Pati. Et toi, comment tu t’appelles ? Tu … lycéen aussi ? Je … fan de Tom Cruise. Il … acteur. Et toi ? Quel acteur que tu adores ?
Konjugasikanlah !
Zia (détester) les maths, mais Zay l’ (aimer). Aujourd’hui Zia et Zay (aller) à l’école ensemble à pied. Pourquoi ils vont à l’école à pied ? Parce que ses maisons (être) près de l’école. Zia et Zay (avoir) beaucoup d’amis à l’école. Moi je (être) un de ses amis.

SUSULAN KUIS HARIAN KELAS X

-Buatlah lima kalimat dengan menggunakan bentuk negatif!
-Buatlah perkenalan dengan menggunakan verbe: s’appeler, habiter, avoir, être, dan aimer!
-Buatlah lima kalimat dengan mempergunakan adjectif/kata sifat!
-Buatlah pohon keluarga/silsilah dari keluargamu dalam bahasa Prancis!
-Ceritakan kembali, dalam bahasa Indonesia, buku paket halam 20!

Ada Apa Dengan Ahmadiyah?

Sekitar satu dua hari ini pertelivisian kita dimarakkan dengan berbagai macam berita mengenai aliran Ahmadiyah yang, kata MUI, sesat dan menyesatkan. Dan, sebagai efek dominonya, umat Islam dari berbagai macam ras dan suku merasa mempunyai kewajiban untuk mengusir para penganut Ahmadiyah dari perkampungan mereka, merusak tempat ibadah yang dipakai mereka, serta menghancurkan kehidupan dan masa depan anak-anak mereka.

Sungguh ironis, Islam yang katanya agama kedamaian menjadi agama barbarian di tangan mereka. Islam yang katanya agama rahmat menjadi kiamat bagi penganut Ahmadiyah.

Sungguh, apakah Rasul, akan tersenyum melihat umatnya berbuat sebiadab itu?

Sungguh, apakah Rasul akan bangga melihat penindasan mayoritas terhadap minoritas itu?

Satu tanya yang masih menggelayut, apakah Islam menghalalkan umatnya untuk menyakiti umat lain, walaupun umat tersebut telah dicap sesat oleh MUI?

Apakah Allah dan Rasulnya menghalalkan umatnya untuk merusak mushala dan masjid yang dipakai untuk beribadah oleh golongan yang dicap sesat oleh MUI?

Apakah halal menghancurkan kehidupan dan masa depan anak-anak yang kebetulan mereka dilahirkan dalam keluarga yang dicap sesat oleh MUI?

Saudaraku, apakah kesesatan berarti memperbolehkan kita untuk berbuat sekehendak hati kita?

Saudaraku, apakah kesesatan adalah penghalalan perilaku brutal kita terhadap yang sesat?

Saudaraku, apakah orang yang sesat tidak mempunyai kesempatan hidup dan merubah diri?

Saudaraku, apakah engkau merasa lebih tinggi dari Allah, Tuhanmu, karena engkau telah membuang rasa kasih, padahal kasih sayang adalah wajib bagi Allah?

Saudaraku, apakah engkau lebih mulia daripada Allah, Tuhanmu, karena engkau telah sombong dan merasa dirimu baik dan orang yang kau anggap sesat itu buruk?

Saudaraku, apakah engkau merasa lebih hebat dari Muhammad, Rasulmu, karena engkau lebih memilih penindasan sebagai caramu untuk menghalau kesesatan, padahal Rasulmu tidak pernah mencontohkan hal itu?

Coba, sekarang engkau lihat dirimu, lebih sesat mana antara engkau dan Ahmadiyah?

Engkau telah melampaui batas. Padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menyukai perilaku yang melampaui batas.

Engkau telah mengenyahkan perilaku santun dan penuh kasih, padahal Allah dan Rasul-Nya selalu mengajarkan kita untuk saling berkasih sayang walaupun berbeda keyakinan.

Engkau telah menghancurkan hati anak-anak Ahmadiyah, padahal Allah dan Rasul-Nya sangat menghargai dan menyayangi mereka.

Saudaraku, sekarang engkau bisa menilai, apakah Ahmadiyah atau engkaulah yang sesat?

Engkau yang suci dan menggunakan Islam sebagai kedok kekasaran dan kekerasanmu ataukah Ahmadiyah yang mempercayai sesuatu di batin mereka yang sesat?

Engkau yang melanggar perintah Allah ataukah Ahmadiyah yang sesat?

Engkau yang telah menyakiti hati Rasulmu ataukah Ahmadiyah yang sesat?

Engkau yang merusakkan mushala dam masjid ataukah Ahmadiyah yang sesat?

Coba engkau pikirkan hal itu, saudaraku.

Saudaraku, Rasul tidak pernah menjauhi kaum Quraisy, walaupun mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Rasul tidak pernah mengusir kaum Quraisy dari tanah kelahirannya walaupun mereka secara mutlak terbukti sesat.

Rasul tidak pernah menghancurkan masa depan anak-anak Quraisy walaupun orang tua mereka berada dalam kesesatan.

Saudaraku, Rasul menggunakan kearifan sebagai instrumen perdamaian.

Rasul menggunakan kasih sayang untuk melunakkan hati mereka.

Rasul mengajak berdialog untuk menarik mereka agar kembali kepada kebenaran dan keyakinan yang lurus.

Saudaraku, mengapa engkau tidak meneladani Muhammad, Rasulmu?

Akhirnya, saudaraku, aku ingin bertanya padamu, apakah Islammu bukan Islamku?

Apakah Islammu bukan Islam kita?

Apakah Islammu bukanlah Islam kami?

Apakah Islammu bukanlah Islam mereka?

Dan, apakah engkau sendiri yang merasa, bahwa dirimu Islam?

………………………………………………………………………………….??????????

NGACA DULU, NYOK!!!

Dunia pendidikan kita agaknya bisa menjadi cermin dari kondisi bangsa yang besar ini. Kalau kita jeli melihatnya, akan banyak sekali kita temukan betapa silang sengkarutnya kondisi pendidikan di Indonesia. Hampir setiap ganti menteri, maka berganti pula kurikulumnya. Kata salah seorang partner saya, “kemungkinan menterinya gak mau dicap gak kerja kalo belon ngganti kurikulum dari menteri sebelumnya”.

Coba kita telaah lebih jauh, bukankah akan sangat kacaunya bangsa ini jikalau kurikulum yang lama belum dilaksanakan sudah berganti dengan kurikulum yang baru? Alangkah prematurnya akal pikiran kita.

Kalau dianalisis, kita adalah seperti orang yang tergila-gila pada hand phone. Hand phone yang lama belum kita kuasai cara memakainya, e, hati kita malah tertaut dengan hand phone yang baru diiklankan di televisi. Kita juga seperti orang yang kedanan operating system, belum juga kita menguasai Windows 98, kita beralih ke Windows XP. Windows XP belum terkuasai dengan baik, kita sudah migrasi ke Windows Vista. Seolah-olah, kalau kita cermati, sistim pendidikan ataupun kurikulum yang dikeluarkan kementerian pendidikan nasional adalah suatu produk temporal yang berkecenderungan hanya memikirkan tujuan jangka pendek. Berarti, suatu simpulan bisa kita tarik, bahwa dunia pendidikan kita tidaklah visioner. Tujuan yang ingin dicapai tidaklah untuk jangka panjang. Dunia pendidikan kita adalah dunia pendidikan responsif yang ilusif.

Dunia pendidikan kita pun, kalau boleh kita jujur, tidaklah berusaha mencetak peserta didik yang berkepandaian & berketerampilan, melainkan berijazah. Kita lebih mementingkan anak kita lulus dan mendapat ijazah dengan menisbikan proses untuk mencapai ijazah itu. Kita masih terkungkung pada pemikiran, bahwa ijazah menentukan segalanya. Walaupun tidak bisa kita pungkiri, bahwa hal itu tidaklah salah. Tetapi hal ini juga tidak bisa kita katakan benar, jika kita mendapatkannya dengan menghalalkan segala macam cara.

Efek domino dari hipotesa tadi adalah adanya pemikiran, bahwa yang dicari dalam sekolah bukanlah ilmu, melainkan ijazah. Dus, niat orang tua dalam menyekolahkan anaknya terkadang bukanlah untuk ngangsu kawruh tetapi sekadar untuk mendapatkan selembar dua lembar ijazah. Imbasnya, peserta didik cenderung hanya mengutamakan dan belajar serius terhadap mata pelajaran yang diuji nasionalkan.

Mata pelajaran lain? Cuek aja, lah!

Hal ini berimplikasi pada guru/praktisi pendidikan yang kebetulan tidak mengampu mata pelajaran untuk ujian nasional. Ada semacam dekandensi moral yang secara gradual dan sistemik menyerang mereka. Mereka merasa dianak tirikan. Bukan saja oleh pemerintah, sekolah, pun juga peserta didiknya. Akibatnya, dalam memberikan layanan pendidikan akan tidak bisa maksimal dan optimal, karena mereka tidak mengajar dengan hati.

Kemudian, pembelajaran yang paling baik itu bagaimana?

Pembelajaran yang paling baik, menurut saya, adalah dengan mengajak anak merasakan apa yang mereka pelajari. Dalam artian, peserta didik diajak untuk mengalami sendiri prosesi belajar itu. Atau bisa dikatakan, bahwa belajar adalah learning by doing.

Lalu, penilaian yang diterapkan di sini adalah penilaian proses yang bertumpu pada penguasaan materi dan aplikasinya.

Dengan model pembelajaran seperti ini, maka peserta didik diharapkan menjadi subjek dari pembelajaran. Di samping itu, peserta didik juga mampu mengejawantahkan setiap ilmu yang mereka peroleh dengan tindak nyata, yang riil, yang bukan imajiner.

Dus, peserta didik, di sini, menjadi agen pembelajar yang tidak hanya bergerak secara robotik dalam tataran awang-awang.

Sekarang, kalau peserta didiknya sudah aktif, sudah menjadi subjek pembelajaran, bagaimana dengan gurunya?

Guru pun, di sini, tidak boleh bengong dan hanya melihat kiprah anak didiknya dari pinggir lapangan. Guru harus menjadi motivator dan inspirator yang ulung bagi anak didiknya. Di samping itu, guru juga harus bersiap diri menjadi penjaga gawang terakhir dari setiap permasalahan yang dihadapi anak didiknya. Nah, prasyarat untuk mejadi penjaga gawang yang handal adalah, bahwa guru harus menguasai setiap lini, setiap detil, dan memiliki semacam kekuatan futuristik untuk menebak dari arah mana bola akan dibidikkan. Setelah itu, guru juga harus dapat mengolah setiap pesan dan permasalahan yang dibidikkan peserta didik menjadi sebuah masakan yang sedap dan dapat memuaskan setiap pihak. Untuk mempunyai kekuatan seperti itu, maka seorang guru harus menambah perbekalannya dengan banyak-banyak membaca dan berlatih. Ya, setiap guru pada dasarnya adalah seorang pembelajar sejati yang harus selalu dan selalu menambah perbendaharaan ilmunya. Idealnya, seorang guru haruslah menjadi perpustakaan berjalan.

Akhirnya, hanyalah jiwa yang berrevolusi dan pikiran yang merdeka yang mampu membuat dunia pendidikan pada bangsa yang besar ini menjadi maju. Maju tidak hanya dalam tataran fisik, melainkan juga dalam tataran kejiwaan dan pikiran.

Hidup Indonesia!!!

Jayalah negeriku!!!

FITNA TERNYATA OKE BUANGGETS, LHO!!!

Fitna agaknya merupakan film kedua di tahun 2008 yang meledak di jagat perfilman Indonesia setelah Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik, meskipun film ini bukan merupakan produksi anak negeri.

Fitna sendiri sebenarnya bukanlah sebuah film yang luar biasa. Kalau dilihat kualitasnya, maka akan tampaklah, bahwa film ini adalah buatan orang amatiran. Pembuatannya pun hanya dengan menggabungkan beberapa file yang saya pikir bisa dilakukan oleh seorang anak SMP. Idenya pun tidaklah terlalu istimewa. Nukilan-nukilan ayat di dalamnya pun tidak menggambarkan kebrilianan dan keilmiahan. Hal ini bisa dibuktikan dengan pemotongan ayat-ayat Al Qur’an yang tentu saja disesuaikan dengan misi pembuatnya, dengan tanpa mempedulikan konteks dan asbabun nuzul-nya.

Secara garis besar, saya menilai film ini belumlah layak untuk disebarluaskan ke seantero dunia, kata si Ucrit tetangga saya, film ini masih kalah keren dengan film Beranak dalam Kubur.

Herannya, film ini malah meledak di seantero jagat raya. Orang-orang berduyun-duyun bukan untuk menonton, melainkan untuk berdemonstrasi menentang isi film tersebut.

Kalau saya pikir-pikir, kenapa kita harus marah melihat penayangan film ini? Toh, umat Islam tidaklah seperti yang digambarkan oleh film tersebut.

Justru ketika umat Islam menolak kebenaran dalam film ini dengan kekerasan, maka makin kukuhlah anggapan orang, bahwa Islam adalah agama kekerasan. Nah, lo???

Sedikit bersuuzhon, coba kita merenung sejenak, apakah tidak mungkin bahwa film ini dibuat sebagai piranti penyulut amarah umat Islam? So, jika kita tersulut, maka persepsi negatif terhadap Islam akan mendapat pembenaran secara de facto.

Atau, mungkin, film ini dibuat untuk menarik kembali hati orang-orang Barat yang sudah jatuh cinta dengan Islam agar mau merubah jalur keimanannya, karena, menurut penelitian, saat ini Islam adalah agama yang paling signifikan laju perkembangannya di daratan Eropa. Hal ini berbanding terbalik dengan agama-agama lain.

Terlepas dari itu semua, marilah kita berhusnuzhon, bahwa peristiwa film ini bukanlah sesuatu yang kebetulan saja, melainkan kehendak Rabb untuk melihat sejauh mana tingkat ke-Islam-an hamba-Nya. Apakah dengan cobaan seperti ini umat Islam dapat meningkatkan derajatnya menuju ke aras yang lebih tinggi dengan menanggapinya secara santun dan bijaksana. Ataukah umat Islam akan jatuh terperosok ke maqam yang lebih rendah hanya karena menanggapi peristiwa ini dengan kemarahan yang meluap, tetesan darah, atau jerit tangis orang-orang yang tak bersalah.

Akhirnya, menyitir perkataan Nabi Isa, berikanlah pipi kananmu ketika pipi kirimu di tampar. Baiknya, kita membalas perbuatan yang kurang terpuji ini dengan perbuatan yang baik dan santun, yang benar-benar mencerminkan akhlak Islami. Kita ajak orang-orang yang belum terbuka hatinya untuk berdialog dan bercurah pendapat secara ilmiah untuk membuktikan, bahwa Islam adalah agama damai, agama cinta, dan agama yang penuh kasih sayang.

Met Ultah Ya Rasul…

Akhir-akhir ini, aku sering melihat lalu lalang bermacam jenis manusia dari berbagai macam ras melakukan ritus-ritus penghormatan terhadap Sang Pangeran Cinta, Rasulullah. Ada yang mengekspresikan penghormatan mereka dengan cara menggelar perayaan sekaten (di Surakarta dan Yogyakarta), shalawatan bersama, membacakan kitab Barzanji, dan lain sebagainya.

Kalo dipikir-pikir, siapa sih Muhammad itu, hingga bisa menggiring hati sekian ratus juta orang untuk ta’zhim dan memberikan cinta mereka ke pada manusia yang satu ini?

Kira-kira, pantas nggak sih Muhammad menerima penghormatan yang sedemikian besarnya dari umat manusia?

Nah, untuk bisa menyatakan pantas apa enggak, kita perlu mendasarkan pikiran dengan alasan-alasan yang logis yang tentu saja harus bisa diterima oleh akal dan hati kita, ya kan?

Yup, sekarang, coba kita lihat dari dekat, seperti apa sih sosok Muhammad itu?

Menurut Jillands Posten dalam karikaturnya, Muhammad digambarkan sebagai seorang pria Arab yang memakai sorban bom di atas kepalanya. Dan ternyata, pendapat ini diamini oleh banyak media luar negeri dengan cara dimuatnya karikatur ini dalam berbagai media massa luar negeri.

Eh, tapi, ternyata, nggak semua orang barat berpendapat seperti itu. Salah satu yang bersilang pendapat dengan Jillands Posten adalah Michael H. Hart.

Hart, dalam bukunya, menyatakan, bahwa manusia paling berpengaruh dalam sejarah peradaban di dunia ini adalah Muhammad. Ya, Muhammad menjadi nomor wahid dalam bukunya!

Hal yang mendasari Hart dalam menentukan pilihannya adalah, bahwa Muhammad dapat menjadi pemimpin agama dan pemimpin di kehidupan dunia. Hal ini jarang sekali direngkuh oleh tokoh yang bagaimanapun hebatnya. Kehidupan Muhammad menjadi inspirasi yang sedemikian dahsyatnya dalam mengajak orang untuk berbuat kebaikan dan menyebarkan virus-virus cinta bagi setiap insan.

Bersambung……………

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.